Hidup hari ini

“Manisnya hidup kita yang tentukan”,  pasti banyak yang merasa pernah membaca atau melihat kalimat itu bukan? saya rasa banyak diantara kalian yang pernah mendengarnya. Iya, itu sederet kalimat yang jadi jargonnya produk Tropicana Slim, eits tapi saya disini bukan ingin mempromosikan produk Tropicana, endorse dan semacamnya ya, saya cuma meminjam sederet kalimat itu saja untuk memberi tau diri saya sendiri bahwa “bahagia” itu kita yang menentukan bukan orang lain.

Siapa sih di dunia ini yang tidak mau bahagia? semua orang pasti ingin merasakan kebahagiaan, bahkan bahagia seringkali dijadikan tujuan dari banyaknya hal yang kita lakukan, istilahnya kita melakukan banyak hal untuk mengupayakan terwujudnya kebahagiaan. Karena pada dasarnya bahagia itu ialah perasaan yang ingin dirasakan semua orang tanpa terkecuali.

Dalam mengejar kebahagiaan, seringkali kita sebagai manusia melakukan hal-hal yang terkadang sama sekali tak bisa dibenarkan, merugikan orang lain, bahkan menyakiti pihak lain dengan mengatasnamakan bahagia,demi merasakan kebahagiaan. Jadi, apakah kebahagiaan sepicik itu?

Kita sebagai manusia terkadang mengartikan “bahagia” merasa “bahagia” jika kita berhasil mencapai, mewujudkan, sesuatu yang kita impikan, kita idam-idamkan, kita harapkan. sehingga tidak jarang apabila kita seringkali meng-klaim bahwa diri kita tidak bahagia disaat kita gagal dan tidak berhasil menggapai apa yang kita inginkan. Apakah bahagia sesulit itu?

Dalam menjalani kehidupan, tiap-tiap diri kita memiliki goals, cita-cita ataupun list mimpi yang hendak kita wujudkan, tidak jarang kita memasang target yang tinggi karena katanya bermimpilah setinggi langit karena apabila kamu terjatuh, pun kamu akan terjatuh di awan awannya. Dalam perspektif mimpi, cita-cita, hal itu tidaklah salah, karena dengan adanya cita-cita ataupun mimpi, maka hidup kita akan lebih terarah. Jadi apakah memiliki cita-cita dan mimpi itu salah? tentu jawabannya tidak. Tidak salah jika kita memiliki mimpi, tidak salah jika kita ingin mimpi kita menjadi kenyataan, yang membuatnya menjadi salah ialah ketika kita memasang label bahwa  terwujudnya cita-cita tersebut ialah “bahagia” kita.

” aku pasti akan sangat bahagia apabila berhasil menjadi mahasiswi kedokteran” , itu sepenggal kalimat yang dulu terpatri di pikiran saya kira-kira 4 tahun yang lalu sebelum akhirnya cita-cita tersebut Alhamdulillah diganti oleh Allah dengan yang Insha Allah lebih baik untuk saya. Apakah saya merasa sedih ketika tau bahwa mimpi yang saya inginkan tidak terwujud? jawabannya tentu saja iya, saya sedih, marah, menyalahkan diri sendiri, Allah dan orang lain tentu saja. sebagai manusia yang jauh dari kata sempuna tentu saja perasaan itu pernah dirasakan oleh setiap orang, apalagi saya yang dapat dikatakan pada waktu itu belum benar-benar mengenal Agama. Hidup saya begitu menggebu-gebu menginginkan banyak hal, dengan tujuan demi pendapat orang lain, akan tetapi berdalih dengan mengatas namakan kebahagiaan diri sendiri dan keluarga.

Semuanya seketika berubah, ketika saya perlahan mulai memahami hakikat hidup sebenarnya, yang mana sebagai manusia kita tercipta tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT dengan tujuan memperoleh Ridha-Nya, dan apapun yang kita lakukan didunia tentunya harus memiliki niat ibadah. Saya kemudian berfikir, bagaimana selama ini saya selalu mengatas namakan nafsu pribadi sebagai bagian besar dari kehidupan saya, bagaimana saya telah menempatkan hal yang bersifat duniawi yang sejatinya hanyalah alat atau sarana ibadah menjadi suatu hal yang utama dibanding mengharapkan Ridha dari Nya. Jadi sejatinya selama ini saya telah salah memaknai arti bahagia, diri ini keliru, dan telah banyak membohongi diri  sendiri mengatas namakan kebahagiaan yang merupakan topeng dalam menuruti tuntutan nafsu saya sebagai manusia. Tuntutan nafsu yang tercapai dan telah menghadirkan rasa puas, sedangkan rasa kepuasan yang saya dapat selama ini tak memunculkan kebahagiaan yang sejatinya saya dambakan, kepuasan dan rasa senang itu hanya bersifat sementara.

Diri ini merasa senang, kemudian saya merasa hampa, lalu  merasa takut, ternyata kehidupan didunia benar-benar menjadi cobaan bagi kita umat manusia, cobaan datang silih berganti, permasalahan dalam hidup pun singgah pergi lalu datang yang lain lagi. Berbagai bentuknya, seberapa banyaknya, dan sepanjang apapun waktu yang dihabiskannya, bukan berarti ketika mereka datang lantas diri kita pun tak bisa merasakan bahagia, semakin hari semakin  saya pelajari, bahwa bahagia bukan tercipta dari keadaan itu sendiri, bukan dilihat dari pelik atau sepinya suasana, pun tak pula dari baik atau buruknya suatu kondisi, bahagia itu berasal dari pikiran kita sendiri, kita yang menciptakan, kita yang merasakan dan kita pula lah yang paling tau.

Namun, sesungguhnya bahagia dan kebahagiaan sejatinya tak akan didapat dari saling menyakiti, tak pula akan didapat dari saling mencaci apalagi mengingkari perintah Ilahi, jika kita menggap bahwa rasa puas yang kita dapatkan pasca mendzolimi diri dan orang lain sebagai kebahagiaan, maka sejatinya kita perlu berbenah diri, muhasabah diri.Lihatlah kedalam dirimu sendiri, sudah bahagiakah engkau dihari ini?  atau pertanyaannya seharusnya diubah menjadi , sudah bisakah kau membuat dirimu bahagia dihari ini? jika kau belum bisa merasakan bahagia, cobalah perbanyak intropeksi apa yang salah dengan diri? mengapa saya belum bisa bahagia hari ini? sementara nikmat Allah melimpah ruah tak dapat dipungkiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s