Aku yang belum mengenal diriku (1)

Aku baru tau, kalau terkadang mencintai diri sendiri itu lebih sulit daripada mencoba menerima orang lain yang kita ga suka untuk masuk ke hidup kita. Menghargai diri sendiri itu lebih sulit dibanding mencoba menerima argumen orang lain ketika beda pendapat dalam suatu perdebatan. Begitu sulitnya memahami diri kita sendiri bahkan terasa lebih sulit bila dibandingakan dengan mencoba memahami perasaan orang lain.

Terkadang dalam kehidupan, sehari-harinya kesulitan yang tampak lebih banyak kita hadapi ialah kesulitan yang berkaitan dengan orang lain, orang disekitar kita, lebih kepada interpersonal, antar individu, ya kalian pasti pernah ngalamin gimana susahnya buat nerima pendapat seseorang yang jelas-jelas beda kepala sama kita, beda pemikiran dan beda cara pandangnya, sangat sulit, tapi, kita bisa langsung sadar dan paham kalau sejatinya pemikiran serta cara pandang kita jelas berbeda dengan orang tersebut. Sama halnya ketika kita mencoba untuk menerima seseorang yang kita tidak begitu suka untuk masuk kedalam lingkaran kita, sejatinya kita sudah paham dari awal kalau ada beberapa hal yang kita tidak suka dari orang tersebut, sehingga ketika kita sudah memutuskan untuk menerima orang itu, otomatis kita mencoba memahami dan mencoba menerima. Seolah apa yang harus kita lakukan itu tergambar nyata dan tidaklah abstrak ya hasilnya bisa kita lihat langsung , bisa dari reaksi orang yang bersangkutan, maupun kondisi yang kita rasakan.

Jika itu berkaitan dengan orang lain, kita selalu memposisikan diri kita untuk bisa paham, mengerti, dan menerima, tapi mengapa begitu sulit jika posisi itu kita balikkan untuk diri kita sendiri. Ya aku ga tau apa cuma aku yang merasa bahwa aku belum benar-benar paham dengan diri ku sendiri.

Memahami diri sendiri bagiku tidak lah mudah,  itu cukup sulit, bahkan terkadang aku tidak begitu paham dan mengerti apa yang aku inginkan, apa yang sebenarnya aku mau, dan hal apa yang bisa membuat aku bahagia. Terlalu banyaknya pendapat orang yang menghiasi kehidupanku juga kayaknya punya andil yang lumayan besar, dan yang aku sadari selama ini aku berkaca dari pendapat-pendapat tersebut untuk membentuk sebuah statement bahwa aku, diriku itu benar seperti yang mereka katakan, aku diriku, itu persis seperti apa yang mereka gambarkan.

Berkaca dari pendapat orang lain membuat aku melupakan hal yang benar-benar penting, aku lupa bagaimana aku dari sudut pandangku sendiri, aku tidak memahami hal apa yang benar-benar aku inginkan, dan terkadang aku lupa bagaimnaa cara membuat diriku sendiri bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s