Live is…

Bismillahhirohmannirohim…

Dear saudara saudariku, bagaimanakah kabarmu dihari ini? telah bahagiakan kamu hari ini? sudahkah kamu membuang jauh sakit hati dan dendammu dengan rasa syukur dan ikhlas?

jalanilah hari ini seolah- olah ini hari terakhir kita ada di dunia. kata-kata tersebut sungguh indah dan penuh dengan power bagi kita yang membaca maupun mengucapkannya, akan tetapi sayangnya tidak semudah itu untuk diterapkan. Terkadang banyak waktu yang kita kira akan datang kelak, sehingga membuat kita membuang buang waktu yang saat ini kirta miliki, nyatanya belum tentu waktu itu akan hadir menghampiri kita.

Hal yang sempat aku sesali hari ini yakni ketika waktuku untuk mengistirahatkan badan kubuang untuk melakukan hal yang  tidak terlalu bermanfaat, lalu waktu yang seharusnya kupergunakan  untuk mengistirahatkan otakku dari berbagai jenis pikiran yang terkadang melewati batas toleransi dirikupun tak kupergunakan dengan baik.

Aku akui, aku sedikit sombong, aku merasa bahwa ini hal yang sudah biasa aku lewati, aku merasa ini bukan apa-apa, aku merasa bahwa aku bisa mengatasi semuanya jika aku mau, aku bertindak seolah dunia aku yang mengatur, seolah waktu akan tunduk dan menurut jika kuminta, dan keadaan akan serta merta mengikuti inginku. Bahkan aku sering mengabaikan waktu yang kumiliki sekarang, disaat ia hadir, aku terlalu sibuk mengkhayalkan masa depan, maupun dibayang bayangi mimpi masa lalu.  Sehingga tak kala waktu yang kuimpikan dimasa depan itu tak kunjung hadir, dan kondisi ideal yg kuharapkan tak kunjung tercipta lantas haruskah aku menyalahkan keadaan? atau aku harus menyalahkan ketidakberdayaanku dalam mengendalikan waktu?

Nyatanya aku tersadar aku hanyalah hambamu yang lemah, lemah terhadap godaan setan serta iming-imingnya dalam memberikan angan- angan yang semu.  Aku lemah, tak heran aku sering terjatuh sedalam dalamnya bahkan walaupun aku baru bangkit dan menapakkan kakiku pada satu undakan menuju ke puncak, namun lagi-lagi, jatuhnya aku tak sepadan dengan undakan yang telah berhasil kutapaki itu.

Mungkin engkau bosan wahai tuhanku, melihat hamba yang datang seolah bumi telah runtuh dan mengharapkan perlindunganmu, namun sekejap juga hamba pergi lagi bahkan dengan tak segan mengabaikan lambaian tanganmu. Hamba yang tak tahu diri ini seringkali tak begitu memahami apa artinya dicintai dan mencintai. Hamba seringkali tak memahami tanda- tanda cinta yang kau berikan. Hamba terlalu sibuk mencari janji serta kepastian dari mereka yang bahkan kehidupannya pun tidaklah  pasti, hamba terlalu nyaman bersandar pada bahu yang bahkan rangkanya pun tak mampu berdiri sendiri, dan hamba terlalu percaya pada ucapan dunia yang bahkan tak tahu kapan ia akan berhenti berputar. Hamba terlalu sibuk, sibuk menjauhkan diri darimu.

Hamba hanya mengerti teori tapi minus dalam penerapan diri, hamba hanya merasa ingin kau cintai tapi sama sekali tak mengerti hakikat mencintai, hamba hanya mampu berkata namun jarang berlaku nyata.Namun, satu hal yang paling hamba syukuri. Sejauh apapun hamba menjauh darimu, kau begitu tau bagaimana cara yang tepat untuk membawa hamba kembali. Sekeras apapun hati dan pikiran hamba menyangkal, kau sangatlah tau bagaimana melembutkannya. ya Allah ya tuhanku jangan pernah bosan untuk selalu singgah pada kosongnya hati ini, jangan pernah enggan untuk menjumpai hamba dengan setumpuk cintamu yang tak akan pernah akan ada habisnya.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s