Selama ini aku mengira bahwa hati yang kosonglah yang paling aman, tak akan mudah terusik, namun aku salah, aku baru menyadari, hati yang kosong ternyata lebih rapuh, ia rentan terpapar harapan- harapan yang ia buat sendiri, bahkan sebenarnya seharusnya harapan itu tidak pernah ada

Advertisements

QUOTE OF THE MONDAY

“..youre the right time at the right moment..” 

Nanti ketika kamu bertemu dengannya, seketika kamu akan teringat satu kalimat diatas yang mana kalimat itu merupakan salah satu bagian dari lirik lagu yg dinyanyikan oleh henry, dan merupakan salah satu original soundtrack drama favorite ku. 

Ya dia nanti akan datang, sehingga pada saat dia telah datang kamu akan sadar bahwa dia adalah sesuatu yg tepat, datang diwaktu dan momen yg tepat, keep waiting . Happy Weekdays.

Bersyukurlah..

Apa yang lebih menyedihkan dari harapan yang dihempaskan, bahkan ketika dirimu baru ingin menaruhnya? belum sempat kamu berucap tapi telah lebih dahulu di interupsi. Barulah mulai berangan dan bermimpi, namun dia memperlihatkan kenyataan yang masih mengawang seolah menegaskan, berhenti tolong jangan masukan aku kedalam mimpimu.  Kamu dipaksa menghadapi hal yang dikemas sedemikian rupa seolah itulah masa depan yang menunggumu, kenyataan imitasi yang belum tentu akan menghampiri.

kamu bersedih? tentu, kamu marah? pasti, kamu kecewa? tidak diragukan lagi. Seberapapun sedihnya dirimu, semengerikan apapun kemarahanmu, dan sebesar apapun kecewamu, bersyukurlah, Ia hanya ingin mengingatkanmu, kamu salah menaruh harapanmu, kamu menggantungkannya di tempat yang tidak semestinya. Ia secara tidak langsung membisiki mu, mengatakan bahwa Ia cemburu. Bersyukurlah bahwa itu pertanda, Ia menyayangimu dan tidak ingin kau berkubang dengan ketidak pastian lebih lama lagi.

Lubang hati

Mengendurkan intensitas pandangku pada ekspektasi yang kian membumbung

Hendak ku berkaca pada yang telah lalu, namun cermin yang kulihat telah kelabu tertutup noda kekecewaan.

Menelisik lebih jauh, menggali lebih dalam, bertanya lebih terperinci, tentang alasan mengapa hati enggan berlabuh

Terjawab, namun bukan jawaban yang ditunggu, tersampaikan, namun rongga yang terlanjur menganga dilubuk pikirku tak kunjung menutup

Ketika harapan mengantarkan kekecewaan , rongga yang belum tertutup itu kian hari kian menganga

Bukan sekedar terbuka, melainkan tengah mempertontonkan sisi gelapnya, memperlihatkan kronologis terbentuknya yang berujung pada penolakan, pengabaian sebagai bagian dari perlindungan dirinya, mungkin.

Bagi yang tulus, ia melihat lubang yang menganga itu  bukanlah halangan ataupun jebakan mematikan apalagi perangkap yang sengaja dipasang. Ia akan memandang lebih baik dari pada itu, pikirnya tak mungkin sedangkal  itu.

Namun, bagi yang sekedar ingin tahu, tidak menutup kemungkinan untuk pergi secepat itu, karena ia tak punya alasan untuk menghabiskan waktu mengamati penghalang itu lebih jauh. Dan pada akhirnya hanyalah waktu yang menjadi pembuktian atas jawaban yang ditunggu.

Dan beberapa kemungkinan akan kau temukan,

Kepergian yang menambah rekahan pada lebarnya lukamu

Kepergian yang tak mengusik lukamu

Kedatangan sementara untuk menambah retakan yang berujung pada munculnya rekahan yang baru,

Ataukah kedatangan yang menutup dan bahkan menimbum rekahan luka itu

Doaku pada sang  pemilik waktu, indah diakhir itu harapan namun  penantian adalah jawaban

Masih hari yang sama

Hari- hari yang lain, hari dimana aku masih belum mampu untuk menjadi bahagiamu

Masih detik yang sama dengan detik dimana aku masih belum mampu untuk membuat tersungggingnya senyummu.

Hari ini hujan, apakah kamu tau? Bukan Cuma langit yang menangis, tapi hatiku, perasaanku ikut jatuh bersama tiap tetesnya.

Bukan melulu soal cinta, bukan melulu soal jodoh yang aku khawatirkan. Namun diriku yang masih tetap menjadi pengusik pikiranmu, sumber khawatirmu lah yang masih ku sesalkan.

Memang benar, sudah dari sekian lama, bahkan mungkin sebelum terciptanya diriku, kamu telah mengikhlaskan sebagian besar pikiranmu untuk memikirkan diriku.

Kamu telah dengan segenap hati merelakan ketenangan pikiranmu untuk ku usik dengan belum berdayanya diriku.

Aku menangis, ketika malam hendak berganti fajar, kamu suka rela menyebut namaku untuk terus kamu panjatkan sebagai doa utamamu.

Satu satunya khawatirku saat ini, yakni tetap menjadi khawatirmu, dan doaku pada sang khalik tak lain agar tidak lagi menjadi khawatirmu, agar segera menjadi sumber senyum dan agar bisa menjadi bahagia terindah serta syukurmu karena telah menemani dan membersamai setiap langkahku dengan doa dan seluruh perhatianmu.

Residu Pilu

Pijakan kaki yang kuhentakan dengan maksud hati menggapai kamu, sebagai tokoh utama dalam skenario drama kehidupanku berakhir dalam senyap.

Genggaman tangan kelima jari yang dahulu erat saling bertaut saat ini tercerai, bahkan tak lagi menyisakan  kehangatan yang menguar dan dihantarkan jari jemarimu, mereka menguap berlalu bersama sang waktu.

Familiarnya pandangku dengan siluetmu mungkin masih dan akan tetap selalu sama, namun kesan serta euforia perjumpaan yang menguar bagai pijar kembang api pada tiap pergantian tahun mungkin tak akan lagi terasa menyenangkan.

Jangan salahkan jarak yang mengukir penghapus memori, dan jangan mengkambing hitamkan waktu yang pergi meninggalkan kita jauh, mencerai beraikan kita menjadi hanya aku dan hanya kamu.

mencinta dan mendamba tampak menyenangkan dikala hati tertantang untuk selalu mengumandangkan rindu, namun tahu kah kamu bahwa rindu yang tak berujung dapat menyisakan residu pilu?

Residu pilu mengendap dalam kalbu mengaburkan logika yang mengaku kalah dalam kungkungan kemenangan perasaanmu. Hey aku kalah, mengapa tak kita pilih saja caramu? teriak logika.

Indahnya kita yang hilang tak serta merta ikut menghilangkan residu yang terlanjur menumpuk itu. Jika kemarin logikaku  kalah karena perasaanku mendominasi indahnya rasa. Namun kali ini residu itu terkontaminasi oleh sakitnya kehilangan, sehingga logikaku bergerak mendahului perasaan yang tak tahu sejak kapan ia terdiam membisu.

Campuran residu itu membuat logikaku mengarang berbagai pemakluman yang mengurai banyaknya alasan mengapa aku dan kamu tak lagi dapat menjadi satu.

Dan pada akhirnya, banyaknya alasan itu hanya berakhir pada satu kesimpulan, yang mengantarkan aku pada ending yang sudah bisa dipastikan, entah itu syukur ataupun sesal tak berujung.

 

Pada kenyataannya, yang perlu kamu lakukan sebelum berusaha mencintai orang lain ialah belajar untuk mencintai dirimu sendiri.

Aku tau ini tidak akan menjadi sesederhana itu ketika menyangkut urusan perasaan. Hati bisa membuat semuanya menjadi rumit, yang aku tau pasti iakah ketika pintu hati itu terbuka dan kamu masuk kedalamnya, maka jangan salahkan aku jika kamu akan terkurung disana selamanya