Memory of Dream (Part 1)

6d752156f90730b915311ffc28b5c640

Aku dulu pernah bermimpi, menggenggam tangan itu, berjalan sembari menyusuri jalan dikota kenangan,  menatap matamu dan tersenyum sambil berucap syukur karena akhirnya tuhan menakdirkan kita untuk bersatu. . Aku pernah bermimpi, akan mengenakan apron bunga-bunga yang motifnya akan selalu kau anggap konyol itu, berkutat di dapur setiap pagi dengan segala hiruk pikuk dan langkah cerobohku, sembari mengingat ngingat menu apa yang seharusnya kubuat untuk bekalmu dihari ini, atau apakah aku akan membuat eksperimen dengan menu baru. Aku juga tak pernah lupa untuk bermimpi agar pada waktu sore dimasa depan, kelak aku akan menyuguhkan kopi hitam nan pahit beserta biskuit cokelat yang menjadi favoritmu, sambil menopang dagu dan menatapmu untuk merespon celothan tentang bagaimana rekan sekantormu yang tak henti meledekmu karena bekal makan siang itu, bahkan  tentang mimpi-mimpi , visi misi mu akan hari esok bersamaku. Aku bahkan juga sempat bermimpi, kelak kita akan saling berangkulan, setelah kau merayuku dengan sebuket bunga dan permintaan maaf atas argumen-argumen kita yang kadang-kala bersebrangan  dan kemarahan-kemarahan yang mungkin hadir mewarnai kehidupan.  Itu mimpiku, mimpiku ketika untuk pertama kalinya  aku  menyadari perasaan itu dan menentapkan hatiku bahwa telah kutemukan kamu seseorang yang ingin kuhabiskan sisa hidupku dengannya. Namun itu dulu.. dulu sekali sebelum kenyataan dan takdir menolak berpihak padaku dan adanya kita.

Pengakuan dan penyesalanku

Demi dirimu yang menyertaiku, maaf mungkin tak cukup untuk menggambarkan seberapa besar penyesalanku.. Untukmu yang senantiasa menemaniku, tak lelah, tak  jemu tak pernah terlewat sedetikpun pandangmu dalam keseharianku…

Dikala pandangan  mataku menggelap, sinarmu tertutup awan kelabu, hingga bahkan hatiku tak menemukan setitikpun  cahaya menujumu…namun kau tetap disana, menatapku, menungguku, tak jemu menyayangiku

Sungguh bukan engkau, sungguh bukan dia yang selalu menyesatkanku, tapi aku yang tak berhenti menyakiti diriku..apa yang kugapai dengan tanganku dulu, kubangga dengan segenap ego dan harga diriku, tak ubahnya sekedar pencapaian semu..

Kau tak jenuh datang meski sapaanmu kubalas dengan keluh , kau tak jemu  memanggil meski suaramu tak jua ku renung dalam kalbuku…

Dulu aku tak sepenuhnya setuju, namun kini aku terhempas dan terjatuh dalam asaku, bahwa aku tanpamu bagaikan semesta dengan sebutir pasir, sel bahkan atom yang tak terlihat

Aku tanpamu,  tak ada

Jalanku tanpamu , tersesat

Langkahku tanpamu, tertatih

Harapku tanpamu, kepalsuan

Senangku tanpamu, semu

Sedihku tanpamu, kehancuran.

Pengakuan dan penyesalanku, serta ucap terimakasihku atas indahnya kesempatan kedua, ketiga, keempat bahkan kelima yang sellau kau tawarkan, seperti oase ditengah teriknya matahari di padang pasir.

Saat Nanti Kita Bertemu

83fd8bed9bb1559a583d900bd10bf362

Saat nanti kita bertemu , entah itu diawal pagiku disibuknya siangku, di lelahnya soreku ataupun di penghujung malamku. Maukah kamu berjanji untuk memberitahuku, bahwa ini saat yang telah ditentukan bagi kita untuk bersatu, bahwa kau datang ditugaskan untuk melengkapiku, bahwa kau datang tak  untuk sekedar berbagi cerita denganku , bahwa kau datang tanpa ragu untuk menjadi wujud dari salah satu mimpiku. Aku menaruh harapan, bukan padamu , kamu tenang saja karena aku tau hanya Rabb ku yang mampu mewujudkan itu, kamu tidak perlu bersusah payah untuk menjadi sosok yang mengabulkan inginku, karena kamu bukan tempatku menggantungkan harapanku, melainkan kamulah salah satu harapan itu, harapan  yang ku panjatkan disela sela tunduk sujud dan tengadahnya tanganku. Aku tau kesempurnaan bukanlah milikku ataupun dirimu, akan tetapi.. dengan kesempurnaan Nya , kamu dan aku yang tidak sempurna dapat menjadi lengkap ketika bersatu. Aku tau waktu akan tetap berlalu meski belum kudapati hadirmu, namun menunggu bukanlah perkara susah untukku, bersabarpun kuusahakan agar selalu. Tak usah khawatir akan diriku karena Rabb ku akan senantiasa mendampingiku, cukup kau tau bahwa hadirmu kelak akan menjadi salah satu wujud indah dari penantianku.

Aku Yang Belum Mengenal Diriku (2)

Banyak sudut pandang yang digunakan orang-orang dalam usahanya untuk menggambarkan siapa dirinya, bagaimana ia serta apa yang dia inginkan kedepan. Salah satu usahanya yakni dengan mendengarkan pendapat, pernyataan, serta anggapan orang lain, hal tersebut tentu tak bisa kita salahkan, karena kelebihan dan kekurangan kita kadang lebih jelas tergambar dari sudut pandang serta kacamata orang lain dibandingkan dengan penggambaran dari sudut pandang kita sendiri. Tapi apakah semua pernyataan serta penggambaran yang orang lain berikan itu dapat benar-benar dijadikan patokan dalam menggambarkan diri kita? menurutku tidak.

Orang lain memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat suatu fenomena, ada seseorang yang lebih fokus melihat kekurang, sedikit mengabaikan kelebihan ada pula yang sebaliknya, ada yang lebih jeli dalam menganalisa serta tak luput dari matanya hal-hal kecil yang sejatinya dapat digunakan sebagai bahan penilaian, ada juga yang menilai hanya garis besarnya saja. Banyak faktor yang berpengaruh tentu saja. Dengan sudut pandang  dan faktor yang beragam itulah kita tidak seharusnya menjadikan pendapat orang lain sebagai patokan utama dalam mencoba mencari tau  dan menilai siapa diri kita.

Terkadang kita sering menemukan suatu keadaan dimana kita diminta untuk mendeskripsikan diri kita, bagaimana sifat, kekurangan serta kelebihan yang kita miliki. Beberapa orang mampu untuk menjelaskan siapa dirinya, bagaimana ia, apa kekurangan serta kelebihan yang ia miliki, namun beberapa diantaranya juga memiliki kesulitan tersendiri untuk melakukan hal tersebut. Jika ditanya mengapa mereka tidak bisa menggambarkan diri mereka dengan baik, sebagian menjawab bahwa yang lebih tau dan bisa menilai yakni orang disekitar mereka, orang yang berinteraksi dengan mereka, karena pendapat pribadi terkadang tidak terlalu objektif untu menggambarkannya.

Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak bisa dibenarkan seuutuhnya, memang dikeseharian orang terdekat yang banyak berinteraksi dengan kitalah yang menjadi saksi atas kegiatan, sikap, perilaku, tindakan yang kita lakukan, akan tetapi seperti sebelumnya, banyak faktor yang dapat menjadi sumber bias sehingga dapat mempengaruhi penilaian itu sendiri, karena pada dasarnya kebanyakan orang-orang  seringkali mengutamakan prasangkanya, menilai hanya dari satu sisi. Tidak mengeherankan jika penilaian yang didapat pun tidak benar-benar dapat menginterpretasikan  apa yang dinilai, karena orang yang memberikan penilaian terkadang hanya menilai apa yang kita tampilkan saja.

Aku sering mendengar banyak pendapat orang lain mengenai diriku sendiri,beragam komentar serta penilaian yang aku terima, terkadang ada kalanya aku merasa setuju dengan apa yang mereka katakan, akan tetapi tidak jarang juga aku merasa itu tidaklah sesuai dengan diriku ” They actually dont know about me“, ya namanya juga manusia , terkadang lebih cenderung suka dengan pujian atau lebih cenderung pada hal yang baik, sementara terkadang pendapat yang  menyatakan suatu hal yang kurang baik  atau tidak begitu kita sukailah  merupakan hal yang lebih sering tidak bisa diterima dengan baik.

Terlepas dari menilai diri sendiri dari sudut pandang orang lain, aku sadar bahwa yang paling mengenal diri kita, siapa kita, bagaimana kita itu ialah diri kita sendiri, karena kita yang menjalani, melaksanakan, memikirkan bahkan merasakan berbagai aspek terkait pribadi kita sendiri. Namun kadang-kadang ada beberapa hal, ada beberapa kondisi yang membuat penilaian dari sudut pandang orang lain sangatlah kita butuhkan, pendapat orang lain dapat dijadikan sebagai penguat maupun bahan introspeksi diri, ketika kita sudah tau tentang diri kita dari sudut pandang kita sendiri, lalu pastikan lagi kebenarannya dengan melihatnya dari sudut pandang orang lain, pasti ada saja hal yang bisa kita koreksi sebagai bahan untuk memperbaiki diri.

finally, aku yang belum mengenal diriku ini masih terus mengkaji masih terus  menggali dan berbenah serta mengintrospeksi diri, karena tidak mudah untuk mampu mengenali diri sendiri, akan tetapi hal tersebut harus benar-benar dipahami, karena ketika kita mengerti akan diri sendiri maka tak sukar untuk menentukan apa yang ingin dicari dikemudian hari.

maapkeun banyak typo :’) 

 

Aku yang belum mengenal diriku (1)

Aku baru tau, kalau terkadang mencintai diri sendiri itu lebih sulit daripada mencoba menerima orang lain yang kita ga suka untuk masuk ke hidup kita. Menghargai diri sendiri itu lebih sulit dibanding mencoba menerima argumen orang lain ketika beda pendapat dalam suatu perdebatan. Begitu sulitnya memahami diri kita sendiri bahkan terasa lebih sulit bila dibandingakan dengan mencoba memahami perasaan orang lain.

Terkadang dalam kehidupan, sehari-harinya kesulitan yang tampak lebih banyak kita hadapi ialah kesulitan yang berkaitan dengan orang lain, orang disekitar kita, lebih kepada interpersonal, antar individu, ya kalian pasti pernah ngalamin gimana susahnya buat nerima pendapat seseorang yang jelas-jelas beda kepala sama kita, beda pemikiran dan beda cara pandangnya, sangat sulit, tapi, kita bisa langsung sadar dan paham kalau sejatinya pemikiran serta cara pandang kita jelas berbeda dengan orang tersebut. Sama halnya ketika kita mencoba untuk menerima seseorang yang kita tidak begitu suka untuk masuk kedalam lingkaran kita, sejatinya kita sudah paham dari awal kalau ada beberapa hal yang kita tidak suka dari orang tersebut, sehingga ketika kita sudah memutuskan untuk menerima orang itu, otomatis kita mencoba memahami dan mencoba menerima. Seolah apa yang harus kita lakukan itu tergambar nyata dan tidaklah abstrak ya hasilnya bisa kita lihat langsung , bisa dari reaksi orang yang bersangkutan, maupun kondisi yang kita rasakan.

Jika itu berkaitan dengan orang lain, kita selalu memposisikan diri kita untuk bisa paham, mengerti, dan menerima, tapi mengapa begitu sulit jika posisi itu kita balikkan untuk diri kita sendiri. Ya aku ga tau apa cuma aku yang merasa bahwa aku belum benar-benar paham dengan diri ku sendiri.

Memahami diri sendiri bagiku tidak lah mudah,  itu cukup sulit, bahkan terkadang aku tidak begitu paham dan mengerti apa yang aku inginkan, apa yang sebenarnya aku mau, dan hal apa yang bisa membuat aku bahagia. Terlalu banyaknya pendapat orang yang menghiasi kehidupanku juga kayaknya punya andil yang lumayan besar, dan yang aku sadari selama ini aku berkaca dari pendapat-pendapat tersebut untuk membentuk sebuah statement bahwa aku, diriku itu benar seperti yang mereka katakan, aku diriku, itu persis seperti apa yang mereka gambarkan.

Berkaca dari pendapat orang lain membuat aku melupakan hal yang benar-benar penting, aku lupa bagaimana aku dari sudut pandangku sendiri, aku tidak memahami hal apa yang benar-benar aku inginkan, dan terkadang aku lupa bagaimnaa cara membuat diriku sendiri bahagia.

Hidup hari ini

“Manisnya hidup kita yang tentukan”,  pasti banyak yang merasa pernah membaca atau melihat kalimat itu bukan? saya rasa banyak diantara kalian yang pernah mendengarnya. Iya, itu sederet kalimat yang jadi jargonnya produk Tropicana Slim, eits tapi saya disini bukan ingin mempromosikan produk Tropicana, endorse dan semacamnya ya, saya cuma meminjam sederet kalimat itu saja untuk memberi tau diri saya sendiri bahwa “bahagia” itu kita yang menentukan bukan orang lain.

Siapa sih di dunia ini yang tidak mau bahagia? semua orang pasti ingin merasakan kebahagiaan, bahkan bahagia seringkali dijadikan tujuan dari banyaknya hal yang kita lakukan, istilahnya kita melakukan banyak hal untuk mengupayakan terwujudnya kebahagiaan. Karena pada dasarnya bahagia itu ialah perasaan yang ingin dirasakan semua orang tanpa terkecuali.

Dalam mengejar kebahagiaan, seringkali kita sebagai manusia melakukan hal-hal yang terkadang sama sekali tak bisa dibenarkan, merugikan orang lain, bahkan menyakiti pihak lain dengan mengatasnamakan bahagia,demi merasakan kebahagiaan. Jadi, apakah kebahagiaan sepicik itu?

Kita sebagai manusia terkadang mengartikan “bahagia” merasa “bahagia” jika kita berhasil mencapai, mewujudkan, sesuatu yang kita impikan, kita idam-idamkan, kita harapkan. sehingga tidak jarang apabila kita seringkali meng-klaim bahwa diri kita tidak bahagia disaat kita gagal dan tidak berhasil menggapai apa yang kita inginkan. Apakah bahagia sesulit itu?

Dalam menjalani kehidupan, tiap-tiap diri kita memiliki goals, cita-cita ataupun list mimpi yang hendak kita wujudkan, tidak jarang kita memasang target yang tinggi karena katanya bermimpilah setinggi langit karena apabila kamu terjatuh, pun kamu akan terjatuh di awan awannya. Dalam perspektif mimpi, cita-cita, hal itu tidaklah salah, karena dengan adanya cita-cita ataupun mimpi, maka hidup kita akan lebih terarah. Jadi apakah memiliki cita-cita dan mimpi itu salah? tentu jawabannya tidak. Tidak salah jika kita memiliki mimpi, tidak salah jika kita ingin mimpi kita menjadi kenyataan, yang membuatnya menjadi salah ialah ketika kita memasang label bahwa  terwujudnya cita-cita tersebut ialah “bahagia” kita.

” aku pasti akan sangat bahagia apabila berhasil menjadi mahasiswi kedokteran” , itu sepenggal kalimat yang dulu terpatri di pikiran saya kira-kira 4 tahun yang lalu sebelum akhirnya cita-cita tersebut Alhamdulillah diganti oleh Allah dengan yang Insha Allah lebih baik untuk saya. Apakah saya merasa sedih ketika tau bahwa mimpi yang saya inginkan tidak terwujud? jawabannya tentu saja iya, saya sedih, marah, menyalahkan diri sendiri, Allah dan orang lain tentu saja. sebagai manusia yang jauh dari kata sempuna tentu saja perasaan itu pernah dirasakan oleh setiap orang, apalagi saya yang dapat dikatakan pada waktu itu belum benar-benar mengenal Agama. Hidup saya begitu menggebu-gebu menginginkan banyak hal, dengan tujuan demi pendapat orang lain, akan tetapi berdalih dengan mengatas namakan kebahagiaan diri sendiri dan keluarga.

Semuanya seketika berubah, ketika saya perlahan mulai memahami hakikat hidup sebenarnya, yang mana sebagai manusia kita tercipta tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT dengan tujuan memperoleh Ridha-Nya, dan apapun yang kita lakukan didunia tentunya harus memiliki niat ibadah. Saya kemudian berfikir, bagaimana selama ini saya selalu mengatas namakan nafsu pribadi sebagai bagian besar dari kehidupan saya, bagaimana saya telah menempatkan hal yang bersifat duniawi yang sejatinya hanyalah alat atau sarana ibadah menjadi suatu hal yang utama dibanding mengharapkan Ridha dari Nya. Jadi sejatinya selama ini saya telah salah memaknai arti bahagia, diri ini keliru, dan telah banyak membohongi diri  sendiri mengatas namakan kebahagiaan yang merupakan topeng dalam menuruti tuntutan nafsu saya sebagai manusia. Tuntutan nafsu yang tercapai dan telah menghadirkan rasa puas, sedangkan rasa kepuasan yang saya dapat selama ini tak memunculkan kebahagiaan yang sejatinya saya dambakan, kepuasan dan rasa senang itu hanya bersifat sementara.

Diri ini merasa senang, kemudian saya merasa hampa, lalu  merasa takut, ternyata kehidupan didunia benar-benar menjadi cobaan bagi kita umat manusia, cobaan datang silih berganti, permasalahan dalam hidup pun singgah pergi lalu datang yang lain lagi. Berbagai bentuknya, seberapa banyaknya, dan sepanjang apapun waktu yang dihabiskannya, bukan berarti ketika mereka datang lantas diri kita pun tak bisa merasakan bahagia, semakin hari semakin  saya pelajari, bahwa bahagia bukan tercipta dari keadaan itu sendiri, bukan dilihat dari pelik atau sepinya suasana, pun tak pula dari baik atau buruknya suatu kondisi, bahagia itu berasal dari pikiran kita sendiri, kita yang menciptakan, kita yang merasakan dan kita pula lah yang paling tau.

Namun, sesungguhnya bahagia dan kebahagiaan sejatinya tak akan didapat dari saling menyakiti, tak pula akan didapat dari saling mencaci apalagi mengingkari perintah Ilahi, jika kita menggap bahwa rasa puas yang kita dapatkan pasca mendzolimi diri dan orang lain sebagai kebahagiaan, maka sejatinya kita perlu berbenah diri, muhasabah diri.Lihatlah kedalam dirimu sendiri, sudah bahagiakah engkau dihari ini?  atau pertanyaannya seharusnya diubah menjadi , sudah bisakah kau membuat dirimu bahagia dihari ini? jika kau belum bisa merasakan bahagia, cobalah perbanyak intropeksi apa yang salah dengan diri? mengapa saya belum bisa bahagia hari ini? sementara nikmat Allah melimpah ruah tak dapat dipungkiri.

Dikala aku ingin menyerah

Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang

Engkau tau ya Allah, engkau tau semua hal yang hamba sembunyikan

Engkau tau semua hal yang hamba pendam di pikiran hamba

Engkau tau dengan jelas semuanya .

Darimu, hamba tak memiliki tempat untuk menghindar
Hambamu yang lemah ini tak mampu dan tak kuasa untuk bersembunyi
walaupun hanya untuk sedetik

Hamba tau dengan pasti ya Allah, betapa besar kuasamu atas diriku
Namun , hambamu yang bodoh ini sellau bertindak dzolim, sellau betingkah seolah hambalah yang paling hebat

Hamba bertingkah seolah-olah hamba mampu, hamba kuat, hamba bisa
Walaupun itu tanpamu

Namun ya Allah, ternyata hamba salah, hamba lemah, hamba naif, hamba tak mampu
Bahkan untuk sekedar menyayangi dan menghargai diri hamba sendiripun

Hamba telah gagal ya Allah.

Hamba datang padamu, mengemis perhatianmu, menangis, meraung meminta dikasihani
Akan tetapi ketika kau coba memberi hamba perhatian, hamba lari lagi

Hamba berpaling darimu, hamba menjauh, bertindak seolah hamba tau segalanya, bertindak seolah hamba yang paling tau apa yang kelak akan terjadi

Hamba ketakutan, hamba putus asa, hamba merasa tidak ada yang beres dengan hidup hamba.
Hamba buta, hamba tak tahu arah, hamba kacau tanpa Mu.

Maukah engkau, sekali lagi, untuk yang kesekian kalinya
Menyambut hamba, menjadi tempat hamba untuk pulang?
Memberikan hamba kebahagiaan yang sempat dan selalu hamba buang sebelumnya?
Hamba kembali, hamba berjanji, hamba akan berubah