Ada kalanya..

 

 

 

Bismillahirohmanirohim…

Ada kalanya kamu merasakan kosong, sekitarmu ialah keramaian namun kamu merasa hampa  bahkan saat kamu merupakan salah satu bagian dari keramaian itu

Ada kalanya kamu kesepian, saat disampingmu, disekelilingmu mereka menemani, gelak tawa dan canda melingkupi namun entah mengapa kamu tetap merasa sendiri

Ada kalanya kamu merasa sakit, kamu mampu menjalani kehidupan normalmu, melakukan banyak hal, beraktiditas dengan normal tapi kamu tetap merasakan  rasa yang berbeda pada salah satu bagian dari dirimu

Ada kalanya kamu merasa sedih, senyum tersungging di kedua sudut bibirmu, matamu tak henti berkedut oleh dorongan kerasnya tawamu tapi hatimu malah merasakan hal yang sebaliknya

Ada kalanya kau merasa hidupmu penuh kebohongan, kamu mengiyakan statement yang mereka lontarkan, kamu membenarkan pendapat mereka dengan lisanmu namun pikiranmu terus menyangkalnya

Kamu akan menemukan salah satu dari “ ada kalanya..” di beberapa kesempatan dalam hidupmu, sesekali mungkin, atau malah berkali kali.

“ ada kalanya..”  bagiku menjelaskan satu hal yang pasti, apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya, apa yang di visualkan oleh bola matamu, di dengar oleh telingamu dan diinterpretasikan oleh otak melalui pemikiranmu terkadang belumlah dapat memberikan jawaban jelas atas banyaknya tanya yang  membuncah dalam rasa penasaranmu.

Walaupun kamu menyangkal bahwa anggapanmu bukan tuduhan  kosong  dengan menyodorkan bukti yang telah terangkai dan tersusun rapih bak penelitian yang kau lengkapi dengan rujukan pustaka yang shahih.

Kamu bisa saja benar, pikiranmu dan fakta itu bisa jadi menjelaskan yang sesungguhnya, namun kamu  sendiripun tau dengan pasti, bahwa selalu ada alasan, selalu ada sebab sebelum adanya perbuatan serta akibat.

Jika tidak setuju tak mengapa,  karena tak ada hukum yang menuntut pendapat kita harus sejalan . Jika tidak suka tak jadi masalah, karena bahkan yang paling sempurna sekalipun tetap memiliki pembencinya dan Jika tak bisa menerima pun itu pilihan.

Dari pada  terus berpikir buruk  tentang orang lain atas yang kau lihat serta fakta yang kau dapat, mengapa tidak terlebih dahulu kamu merenungkan, apa yang salah dari pikiranmu sampai kamu tidak mampu berpikir positif tentang hal tersebut?

 

Nb:  Bukan bermaksud menggurui, hanya mencoba berbagi, karena diri juga tidaklah suci perlu belajar serta masih harus introspeksi, karena belajar yang paling ampuh namun sedikit menyesakkan ialah belajar dari kesalahan sendiri. Lihat diri, pahami, nilai, renungkan, koreksi, serta perbaiki J . Salam sayang dari aku yang  belum menyelesaiakn revisi :’).

 

Advertisements

Pengakuan dan penyesalanku

Demi dirimu yang menyertaiku, maaf mungkin tak cukup untuk menggambarkan seberapa besar penyesalanku.. Untukmu yang senantiasa menemaniku, tak lelah, tak  jemu tak pernah terlewat sedetikpun pandangmu dalam keseharianku…

Dikala pandangan  mataku menggelap, sinarmu tertutup awan kelabu, hingga bahkan hatiku tak menemukan setitikpun  cahaya menujumu…namun kau tetap disana, menatapku, menungguku, tak jemu menyayangiku

Sungguh bukan engkau, sungguh bukan dia yang selalu menyesatkanku, tapi aku yang tak berhenti menyakiti diriku..apa yang kugapai dengan tanganku dulu, kubangga dengan segenap ego dan harga diriku, tak ubahnya sekedar pencapaian semu..

Kau tak jenuh datang meski sapaanmu kubalas dengan keluh , kau tak jemu  memanggil meski suaramu tak jua ku renung dalam kalbuku…

Dulu aku tak sepenuhnya setuju, namun kini aku terhempas dan terjatuh dalam asaku, bahwa aku tanpamu bagaikan semesta dengan sebutir pasir, sel bahkan atom yang tak terlihat

Aku tanpamu,  tak ada

Jalanku tanpamu , tersesat

Langkahku tanpamu, tertatih

Harapku tanpamu, kepalsuan

Senangku tanpamu, semu

Sedihku tanpamu, kehancuran.

Pengakuan dan penyesalanku, serta ucap terimakasihku atas indahnya kesempatan kedua, ketiga, keempat bahkan kelima yang sellau kau tawarkan, seperti oase ditengah teriknya matahari di padang pasir.

Aku Yang Belum Mengenal Diriku (2)

Banyak sudut pandang yang digunakan orang-orang dalam usahanya untuk menggambarkan siapa dirinya, bagaimana ia serta apa yang dia inginkan kedepan. Salah satu usahanya yakni dengan mendengarkan pendapat, pernyataan, serta anggapan orang lain, hal tersebut tentu tak bisa kita salahkan, karena kelebihan dan kekurangan kita kadang lebih jelas tergambar dari sudut pandang serta kacamata orang lain dibandingkan dengan penggambaran dari sudut pandang kita sendiri. Tapi apakah semua pernyataan serta penggambaran yang orang lain berikan itu dapat benar-benar dijadikan patokan dalam menggambarkan diri kita? menurutku tidak.

Orang lain memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat suatu fenomena, ada seseorang yang lebih fokus melihat kekurang, sedikit mengabaikan kelebihan ada pula yang sebaliknya, ada yang lebih jeli dalam menganalisa serta tak luput dari matanya hal-hal kecil yang sejatinya dapat digunakan sebagai bahan penilaian, ada juga yang menilai hanya garis besarnya saja. Banyak faktor yang berpengaruh tentu saja. Dengan sudut pandang  dan faktor yang beragam itulah kita tidak seharusnya menjadikan pendapat orang lain sebagai patokan utama dalam mencoba mencari tau  dan menilai siapa diri kita.

Terkadang kita sering menemukan suatu keadaan dimana kita diminta untuk mendeskripsikan diri kita, bagaimana sifat, kekurangan serta kelebihan yang kita miliki. Beberapa orang mampu untuk menjelaskan siapa dirinya, bagaimana ia, apa kekurangan serta kelebihan yang ia miliki, namun beberapa diantaranya juga memiliki kesulitan tersendiri untuk melakukan hal tersebut. Jika ditanya mengapa mereka tidak bisa menggambarkan diri mereka dengan baik, sebagian menjawab bahwa yang lebih tau dan bisa menilai yakni orang disekitar mereka, orang yang berinteraksi dengan mereka, karena pendapat pribadi terkadang tidak terlalu objektif untu menggambarkannya.

Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak bisa dibenarkan seuutuhnya, memang dikeseharian orang terdekat yang banyak berinteraksi dengan kitalah yang menjadi saksi atas kegiatan, sikap, perilaku, tindakan yang kita lakukan, akan tetapi seperti sebelumnya, banyak faktor yang dapat menjadi sumber bias sehingga dapat mempengaruhi penilaian itu sendiri, karena pada dasarnya kebanyakan orang-orang  seringkali mengutamakan prasangkanya, menilai hanya dari satu sisi. Tidak mengeherankan jika penilaian yang didapat pun tidak benar-benar dapat menginterpretasikan  apa yang dinilai, karena orang yang memberikan penilaian terkadang hanya menilai apa yang kita tampilkan saja.

Aku sering mendengar banyak pendapat orang lain mengenai diriku sendiri,beragam komentar serta penilaian yang aku terima, terkadang ada kalanya aku merasa setuju dengan apa yang mereka katakan, akan tetapi tidak jarang juga aku merasa itu tidaklah sesuai dengan diriku ” They actually dont know about me“, ya namanya juga manusia , terkadang lebih cenderung suka dengan pujian atau lebih cenderung pada hal yang baik, sementara terkadang pendapat yang  menyatakan suatu hal yang kurang baik  atau tidak begitu kita sukailah  merupakan hal yang lebih sering tidak bisa diterima dengan baik.

Terlepas dari menilai diri sendiri dari sudut pandang orang lain, aku sadar bahwa yang paling mengenal diri kita, siapa kita, bagaimana kita itu ialah diri kita sendiri, karena kita yang menjalani, melaksanakan, memikirkan bahkan merasakan berbagai aspek terkait pribadi kita sendiri. Namun kadang-kadang ada beberapa hal, ada beberapa kondisi yang membuat penilaian dari sudut pandang orang lain sangatlah kita butuhkan, pendapat orang lain dapat dijadikan sebagai penguat maupun bahan introspeksi diri, ketika kita sudah tau tentang diri kita dari sudut pandang kita sendiri, lalu pastikan lagi kebenarannya dengan melihatnya dari sudut pandang orang lain, pasti ada saja hal yang bisa kita koreksi sebagai bahan untuk memperbaiki diri.

finally, aku yang belum mengenal diriku ini masih terus mengkaji masih terus  menggali dan berbenah serta mengintrospeksi diri, karena tidak mudah untuk mampu mengenali diri sendiri, akan tetapi hal tersebut harus benar-benar dipahami, karena ketika kita mengerti akan diri sendiri maka tak sukar untuk menentukan apa yang ingin dicari dikemudian hari.

maapkeun banyak typo :’)