Bejana hati…

Mungkin belum waktu yang tepat bagiku untuk bicara mengenai cinta dan perasaan itu karena pada dasarnya untuk menyambut sebuah perasaan yang baru terlebih dahulu aku harus menyiapkan hatiku, yang mana hati laksana wadah atau bejana, sedangkan perasaan ialah isinya. Pernah aku mengisi bejana yang kotor dengan air, tapi entah kotoran yang tersisa pada bejana itu kemudian mengubah warna air yang kuisi, ataukah kotoran pada bejana yang tetap mengendap tak berpindah sehingga mengurangi volume air yang seharusnya terisi. Kedua kondisi itu terlihat berbeda, akan tetapi memiliki satu kesimpulan yang sama.

Wadah yang kotor dapat mempengaruhi zat yang kelak hendak kita isi kedalamnya. Begitu pula halnya dengan hati dan perasaan. Untuk menyambut cinta serta perasaan yang baru akan lebih baik jika kita membersihkan hati kita dari cinta serta perasaan lain yang tersisa, dan  telah mengendap. Perasaan lama yang nampak hilang dipermukaan akan tetapi sebenarnya masih tetap tersimpan ditempat yang sama, hanya saja wujudnya tersamarkan, mungkin tak tampak bila dilihat sekilas ataupun jika kau perhatikan dengan kasat matamu, namun dia tetap ada. perasaan semacam itulah yang terkadang luput dari perhatian, raga berdalih melupakan namun hati masih tetap ingin menyimpan.

Manusiawi jika kita menganggap perasaan yang tersisa sebagai memori hidup tentang indahnya berkasih, akan tetapi akan tidak adil apabila kau menyuguhkan cokelat yang telah kau bagi bagi tanpa membungkus kembali bagian yang telah kau sisakan. kau seolah berharap cokelat yang sebelumnya telah kau bagi dua akan kembali menyatu menjadi satu wujud sedangkan cokelat tersebut sudah habis tak bersisa, jadi sisa perasaanmu dan cokelatmu yang tak kunjung kau bungkus sama halnya dengan perasaan yang masih  kau sisakan serta harapan akan sisa perasaan tersebut.

Untuk memulai sesuatu, tentunya kita bukan hanya mengharapkan untuk sekedar memulai saja bukan? karena jika ada permulaan pasti akan selalu ada akhir yang diinginkan, dan tak ada manusia yang menginginkan akhir yang buruk dari permulaan yang mereka buat, begitu pula halnya ketika kita mencoba untuk jatuh cinta lagi, memberi kesempatan pada hati kita untuk merasakan perasaan yang baru .Agar apa yang nantinya kita mulai berakhir dengan baik, tentunya kita harus terlebih dahulu mempersiapkan hati dan pikiran kita, selayaknya analogi bejana yang masih meninggalkan sisa, hatimu yang masih memiliki sisa sisa perasaan akan cinta terdahulu-pun tentunya memiliki kondisi yang sama dengan bejana tersebut. Maka dari itu membersihkan hati dari sisa cinta terdahulu dapat dikatakan pilihan yang bijaksana sebelum memulai cerita cinta yang baru. Hati yang bersih akan lebih siap untuk mencintai, membuatmu lebih sepenuh hati sehingga akhir yang indahpun akan mungkin untuk diraih.

 

 

NB: Salam sayang dariku sarjana muda yang belum menyelesaikan revisi, ternyata memasuki tingga minggu menjadi pengangguran cukup menguras emosi dan pikiran, namun seklai lagi Allah pasti tahu yang terbaik, keep your spirit up 🙂

Pengakuan dan penyesalanku

Demi dirimu yang menyertaiku, maaf mungkin tak cukup untuk menggambarkan seberapa besar penyesalanku.. Untukmu yang senantiasa menemaniku, tak lelah, tak  jemu tak pernah terlewat sedetikpun pandangmu dalam keseharianku…

Dikala pandangan  mataku menggelap, sinarmu tertutup awan kelabu, hingga bahkan hatiku tak menemukan setitikpun  cahaya menujumu…namun kau tetap disana, menatapku, menungguku, tak jemu menyayangiku

Sungguh bukan engkau, sungguh bukan dia yang selalu menyesatkanku, tapi aku yang tak berhenti menyakiti diriku..apa yang kugapai dengan tanganku dulu, kubangga dengan segenap ego dan harga diriku, tak ubahnya sekedar pencapaian semu..

Kau tak jenuh datang meski sapaanmu kubalas dengan keluh , kau tak jemu  memanggil meski suaramu tak jua ku renung dalam kalbuku…

Dulu aku tak sepenuhnya setuju, namun kini aku terhempas dan terjatuh dalam asaku, bahwa aku tanpamu bagaikan semesta dengan sebutir pasir, sel bahkan atom yang tak terlihat

Aku tanpamu,  tak ada

Jalanku tanpamu , tersesat

Langkahku tanpamu, tertatih

Harapku tanpamu, kepalsuan

Senangku tanpamu, semu

Sedihku tanpamu, kehancuran.

Pengakuan dan penyesalanku, serta ucap terimakasihku atas indahnya kesempatan kedua, ketiga, keempat bahkan kelima yang sellau kau tawarkan, seperti oase ditengah teriknya matahari di padang pasir.

Aku Yang Belum Mengenal Diriku (2)

Banyak sudut pandang yang digunakan orang-orang dalam usahanya untuk menggambarkan siapa dirinya, bagaimana ia serta apa yang dia inginkan kedepan. Salah satu usahanya yakni dengan mendengarkan pendapat, pernyataan, serta anggapan orang lain, hal tersebut tentu tak bisa kita salahkan, karena kelebihan dan kekurangan kita kadang lebih jelas tergambar dari sudut pandang serta kacamata orang lain dibandingkan dengan penggambaran dari sudut pandang kita sendiri. Tapi apakah semua pernyataan serta penggambaran yang orang lain berikan itu dapat benar-benar dijadikan patokan dalam menggambarkan diri kita? menurutku tidak.

Orang lain memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat suatu fenomena, ada seseorang yang lebih fokus melihat kekurang, sedikit mengabaikan kelebihan ada pula yang sebaliknya, ada yang lebih jeli dalam menganalisa serta tak luput dari matanya hal-hal kecil yang sejatinya dapat digunakan sebagai bahan penilaian, ada juga yang menilai hanya garis besarnya saja. Banyak faktor yang berpengaruh tentu saja. Dengan sudut pandang  dan faktor yang beragam itulah kita tidak seharusnya menjadikan pendapat orang lain sebagai patokan utama dalam mencoba mencari tau  dan menilai siapa diri kita.

Terkadang kita sering menemukan suatu keadaan dimana kita diminta untuk mendeskripsikan diri kita, bagaimana sifat, kekurangan serta kelebihan yang kita miliki. Beberapa orang mampu untuk menjelaskan siapa dirinya, bagaimana ia, apa kekurangan serta kelebihan yang ia miliki, namun beberapa diantaranya juga memiliki kesulitan tersendiri untuk melakukan hal tersebut. Jika ditanya mengapa mereka tidak bisa menggambarkan diri mereka dengan baik, sebagian menjawab bahwa yang lebih tau dan bisa menilai yakni orang disekitar mereka, orang yang berinteraksi dengan mereka, karena pendapat pribadi terkadang tidak terlalu objektif untu menggambarkannya.

Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak bisa dibenarkan seuutuhnya, memang dikeseharian orang terdekat yang banyak berinteraksi dengan kitalah yang menjadi saksi atas kegiatan, sikap, perilaku, tindakan yang kita lakukan, akan tetapi seperti sebelumnya, banyak faktor yang dapat menjadi sumber bias sehingga dapat mempengaruhi penilaian itu sendiri, karena pada dasarnya kebanyakan orang-orang  seringkali mengutamakan prasangkanya, menilai hanya dari satu sisi. Tidak mengeherankan jika penilaian yang didapat pun tidak benar-benar dapat menginterpretasikan  apa yang dinilai, karena orang yang memberikan penilaian terkadang hanya menilai apa yang kita tampilkan saja.

Aku sering mendengar banyak pendapat orang lain mengenai diriku sendiri,beragam komentar serta penilaian yang aku terima, terkadang ada kalanya aku merasa setuju dengan apa yang mereka katakan, akan tetapi tidak jarang juga aku merasa itu tidaklah sesuai dengan diriku ” They actually dont know about me“, ya namanya juga manusia , terkadang lebih cenderung suka dengan pujian atau lebih cenderung pada hal yang baik, sementara terkadang pendapat yang  menyatakan suatu hal yang kurang baik  atau tidak begitu kita sukailah  merupakan hal yang lebih sering tidak bisa diterima dengan baik.

Terlepas dari menilai diri sendiri dari sudut pandang orang lain, aku sadar bahwa yang paling mengenal diri kita, siapa kita, bagaimana kita itu ialah diri kita sendiri, karena kita yang menjalani, melaksanakan, memikirkan bahkan merasakan berbagai aspek terkait pribadi kita sendiri. Namun kadang-kadang ada beberapa hal, ada beberapa kondisi yang membuat penilaian dari sudut pandang orang lain sangatlah kita butuhkan, pendapat orang lain dapat dijadikan sebagai penguat maupun bahan introspeksi diri, ketika kita sudah tau tentang diri kita dari sudut pandang kita sendiri, lalu pastikan lagi kebenarannya dengan melihatnya dari sudut pandang orang lain, pasti ada saja hal yang bisa kita koreksi sebagai bahan untuk memperbaiki diri.

finally, aku yang belum mengenal diriku ini masih terus mengkaji masih terus  menggali dan berbenah serta mengintrospeksi diri, karena tidak mudah untuk mampu mengenali diri sendiri, akan tetapi hal tersebut harus benar-benar dipahami, karena ketika kita mengerti akan diri sendiri maka tak sukar untuk menentukan apa yang ingin dicari dikemudian hari.

maapkeun banyak typo :’) 

 

Hidup hari ini

“Manisnya hidup kita yang tentukan”,  pasti banyak yang merasa pernah membaca atau melihat kalimat itu bukan? saya rasa banyak diantara kalian yang pernah mendengarnya. Iya, itu sederet kalimat yang jadi jargonnya produk Tropicana Slim, eits tapi saya disini bukan ingin mempromosikan produk Tropicana, endorse dan semacamnya ya, saya cuma meminjam sederet kalimat itu saja untuk memberi tau diri saya sendiri bahwa “bahagia” itu kita yang menentukan bukan orang lain.

Siapa sih di dunia ini yang tidak mau bahagia? semua orang pasti ingin merasakan kebahagiaan, bahkan bahagia seringkali dijadikan tujuan dari banyaknya hal yang kita lakukan, istilahnya kita melakukan banyak hal untuk mengupayakan terwujudnya kebahagiaan. Karena pada dasarnya bahagia itu ialah perasaan yang ingin dirasakan semua orang tanpa terkecuali.

Dalam mengejar kebahagiaan, seringkali kita sebagai manusia melakukan hal-hal yang terkadang sama sekali tak bisa dibenarkan, merugikan orang lain, bahkan menyakiti pihak lain dengan mengatasnamakan bahagia,demi merasakan kebahagiaan. Jadi, apakah kebahagiaan sepicik itu?

Kita sebagai manusia terkadang mengartikan “bahagia” merasa “bahagia” jika kita berhasil mencapai, mewujudkan, sesuatu yang kita impikan, kita idam-idamkan, kita harapkan. sehingga tidak jarang apabila kita seringkali meng-klaim bahwa diri kita tidak bahagia disaat kita gagal dan tidak berhasil menggapai apa yang kita inginkan. Apakah bahagia sesulit itu?

Dalam menjalani kehidupan, tiap-tiap diri kita memiliki goals, cita-cita ataupun list mimpi yang hendak kita wujudkan, tidak jarang kita memasang target yang tinggi karena katanya bermimpilah setinggi langit karena apabila kamu terjatuh, pun kamu akan terjatuh di awan awannya. Dalam perspektif mimpi, cita-cita, hal itu tidaklah salah, karena dengan adanya cita-cita ataupun mimpi, maka hidup kita akan lebih terarah. Jadi apakah memiliki cita-cita dan mimpi itu salah? tentu jawabannya tidak. Tidak salah jika kita memiliki mimpi, tidak salah jika kita ingin mimpi kita menjadi kenyataan, yang membuatnya menjadi salah ialah ketika kita memasang label bahwa  terwujudnya cita-cita tersebut ialah “bahagia” kita.

” aku pasti akan sangat bahagia apabila berhasil menjadi mahasiswi kedokteran” , itu sepenggal kalimat yang dulu terpatri di pikiran saya kira-kira 4 tahun yang lalu sebelum akhirnya cita-cita tersebut Alhamdulillah diganti oleh Allah dengan yang Insha Allah lebih baik untuk saya. Apakah saya merasa sedih ketika tau bahwa mimpi yang saya inginkan tidak terwujud? jawabannya tentu saja iya, saya sedih, marah, menyalahkan diri sendiri, Allah dan orang lain tentu saja. sebagai manusia yang jauh dari kata sempuna tentu saja perasaan itu pernah dirasakan oleh setiap orang, apalagi saya yang dapat dikatakan pada waktu itu belum benar-benar mengenal Agama. Hidup saya begitu menggebu-gebu menginginkan banyak hal, dengan tujuan demi pendapat orang lain, akan tetapi berdalih dengan mengatas namakan kebahagiaan diri sendiri dan keluarga.

Semuanya seketika berubah, ketika saya perlahan mulai memahami hakikat hidup sebenarnya, yang mana sebagai manusia kita tercipta tidak lain untuk beribadah kepada Allah SWT dengan tujuan memperoleh Ridha-Nya, dan apapun yang kita lakukan didunia tentunya harus memiliki niat ibadah. Saya kemudian berfikir, bagaimana selama ini saya selalu mengatas namakan nafsu pribadi sebagai bagian besar dari kehidupan saya, bagaimana saya telah menempatkan hal yang bersifat duniawi yang sejatinya hanyalah alat atau sarana ibadah menjadi suatu hal yang utama dibanding mengharapkan Ridha dari Nya. Jadi sejatinya selama ini saya telah salah memaknai arti bahagia, diri ini keliru, dan telah banyak membohongi diri  sendiri mengatas namakan kebahagiaan yang merupakan topeng dalam menuruti tuntutan nafsu saya sebagai manusia. Tuntutan nafsu yang tercapai dan telah menghadirkan rasa puas, sedangkan rasa kepuasan yang saya dapat selama ini tak memunculkan kebahagiaan yang sejatinya saya dambakan, kepuasan dan rasa senang itu hanya bersifat sementara.

Diri ini merasa senang, kemudian saya merasa hampa, lalu  merasa takut, ternyata kehidupan didunia benar-benar menjadi cobaan bagi kita umat manusia, cobaan datang silih berganti, permasalahan dalam hidup pun singgah pergi lalu datang yang lain lagi. Berbagai bentuknya, seberapa banyaknya, dan sepanjang apapun waktu yang dihabiskannya, bukan berarti ketika mereka datang lantas diri kita pun tak bisa merasakan bahagia, semakin hari semakin  saya pelajari, bahwa bahagia bukan tercipta dari keadaan itu sendiri, bukan dilihat dari pelik atau sepinya suasana, pun tak pula dari baik atau buruknya suatu kondisi, bahagia itu berasal dari pikiran kita sendiri, kita yang menciptakan, kita yang merasakan dan kita pula lah yang paling tau.

Namun, sesungguhnya bahagia dan kebahagiaan sejatinya tak akan didapat dari saling menyakiti, tak pula akan didapat dari saling mencaci apalagi mengingkari perintah Ilahi, jika kita menggap bahwa rasa puas yang kita dapatkan pasca mendzolimi diri dan orang lain sebagai kebahagiaan, maka sejatinya kita perlu berbenah diri, muhasabah diri.Lihatlah kedalam dirimu sendiri, sudah bahagiakah engkau dihari ini?  atau pertanyaannya seharusnya diubah menjadi , sudah bisakah kau membuat dirimu bahagia dihari ini? jika kau belum bisa merasakan bahagia, cobalah perbanyak intropeksi apa yang salah dengan diri? mengapa saya belum bisa bahagia hari ini? sementara nikmat Allah melimpah ruah tak dapat dipungkiri.