Bersyukurlah..

Apa yang lebih menyedihkan dari harapan yang dihempaskan, bahkan ketika dirimu baru ingin menaruhnya? belum sempat kamu berucap tapi telah lebih dahulu di interupsi. Barulah mulai berangan dan bermimpi, namun dia memperlihatkan kenyataan yang masih mengawang seolah menegaskan, berhenti tolong jangan masukan aku kedalam mimpimu.  Kamu dipaksa menghadapi hal yang dikemas sedemikian rupa seolah itulah masa depan yang menunggumu, kenyataan imitasi yang belum tentu akan menghampiri.

kamu bersedih? tentu, kamu marah? pasti, kamu kecewa? tidak diragukan lagi. Seberapapun sedihnya dirimu, semengerikan apapun kemarahanmu, dan sebesar apapun kecewamu, bersyukurlah, Ia hanya ingin mengingatkanmu, kamu salah menaruh harapanmu, kamu menggantungkannya di tempat yang tidak semestinya. Ia secara tidak langsung membisiki mu, mengatakan bahwa Ia cemburu. Bersyukurlah bahwa itu pertanda, Ia menyayangimu dan tidak ingin kau berkubang dengan ketidak pastian lebih lama lagi.

Advertisements

Lubang hati

Mengendurkan intensitas pandangku pada ekspektasi yang kian membumbung

Hendak ku berkaca pada yang telah lalu, namun cermin yang kulihat telah kelabu tertutup noda kekecewaan.

Menelisik lebih jauh, menggali lebih dalam, bertanya lebih terperinci, tentang alasan mengapa hati enggan berlabuh

Terjawab, namun bukan jawaban yang ditunggu, tersampaikan, namun rongga yang terlanjur menganga dilubuk pikirku tak kunjung menutup

Ketika harapan mengantarkan kekecewaan , rongga yang belum tertutup itu kian hari kian menganga

Bukan sekedar terbuka, melainkan tengah mempertontonkan sisi gelapnya, memperlihatkan kronologis terbentuknya yang berujung pada penolakan, pengabaian sebagai bagian dari perlindungan dirinya, mungkin.

Bagi yang tulus, ia melihat lubang yang menganga itu  bukanlah halangan ataupun jebakan mematikan apalagi perangkap yang sengaja dipasang. Ia akan memandang lebih baik dari pada itu, pikirnya tak mungkin sedangkal  itu.

Namun, bagi yang sekedar ingin tahu, tidak menutup kemungkinan untuk pergi secepat itu, karena ia tak punya alasan untuk menghabiskan waktu mengamati penghalang itu lebih jauh. Dan pada akhirnya hanyalah waktu yang menjadi pembuktian atas jawaban yang ditunggu.

Dan beberapa kemungkinan akan kau temukan,

Kepergian yang menambah rekahan pada lebarnya lukamu

Kepergian yang tak mengusik lukamu

Kedatangan sementara untuk menambah retakan yang berujung pada munculnya rekahan yang baru,

Ataukah kedatangan yang menutup dan bahkan menimbum rekahan luka itu

Doaku pada sang  pemilik waktu, indah diakhir itu harapan namun  penantian adalah jawaban

Masih hari yang sama

Hari- hari yang lain, hari dimana aku masih belum mampu untuk menjadi bahagiamu

Masih detik yang sama dengan detik dimana aku masih belum mampu untuk membuat tersungggingnya senyummu.

Hari ini hujan, apakah kamu tau? Bukan Cuma langit yang menangis, tapi hatiku, perasaanku ikut jatuh bersama tiap tetesnya.

Bukan melulu soal cinta, bukan melulu soal jodoh yang aku khawatirkan. Namun diriku yang masih tetap menjadi pengusik pikiranmu, sumber khawatirmu lah yang masih ku sesalkan.

Memang benar, sudah dari sekian lama, bahkan mungkin sebelum terciptanya diriku, kamu telah mengikhlaskan sebagian besar pikiranmu untuk memikirkan diriku.

Kamu telah dengan segenap hati merelakan ketenangan pikiranmu untuk ku usik dengan belum berdayanya diriku.

Aku menangis, ketika malam hendak berganti fajar, kamu suka rela menyebut namaku untuk terus kamu panjatkan sebagai doa utamamu.

Satu satunya khawatirku saat ini, yakni tetap menjadi khawatirmu, dan doaku pada sang khalik tak lain agar tidak lagi menjadi khawatirmu, agar segera menjadi sumber senyum dan agar bisa menjadi bahagia terindah serta syukurmu karena telah menemani dan membersamai setiap langkahku dengan doa dan seluruh perhatianmu.

Residu Pilu

Pijakan kaki yang kuhentakan dengan maksud hati menggapai kamu, sebagai tokoh utama dalam skenario drama kehidupanku berakhir dalam senyap.

Genggaman tangan kelima jari yang dahulu erat saling bertaut saat ini tercerai, bahkan tak lagi menyisakan  kehangatan yang menguar dan dihantarkan jari jemarimu, mereka menguap berlalu bersama sang waktu.

Familiarnya pandangku dengan siluetmu mungkin masih dan akan tetap selalu sama, namun kesan serta euforia perjumpaan yang menguar bagai pijar kembang api pada tiap pergantian tahun mungkin tak akan lagi terasa menyenangkan.

Jangan salahkan jarak yang mengukir penghapus memori, dan jangan mengkambing hitamkan waktu yang pergi meninggalkan kita jauh, mencerai beraikan kita menjadi hanya aku dan hanya kamu.

mencinta dan mendamba tampak menyenangkan dikala hati tertantang untuk selalu mengumandangkan rindu, namun tahu kah kamu bahwa rindu yang tak berujung dapat menyisakan residu pilu?

Residu pilu mengendap dalam kalbu mengaburkan logika yang mengaku kalah dalam kungkungan kemenangan perasaanmu. Hey aku kalah, mengapa tak kita pilih saja caramu? teriak logika.

Indahnya kita yang hilang tak serta merta ikut menghilangkan residu yang terlanjur menumpuk itu. Jika kemarin logikaku  kalah karena perasaanku mendominasi indahnya rasa. Namun kali ini residu itu terkontaminasi oleh sakitnya kehilangan, sehingga logikaku bergerak mendahului perasaan yang tak tahu sejak kapan ia terdiam membisu.

Campuran residu itu membuat logikaku mengarang berbagai pemakluman yang mengurai banyaknya alasan mengapa aku dan kamu tak lagi dapat menjadi satu.

Dan pada akhirnya, banyaknya alasan itu hanya berakhir pada satu kesimpulan, yang mengantarkan aku pada ending yang sudah bisa dipastikan, entah itu syukur ataupun sesal tak berujung.

 

Belum dapat mencintaimu

Pandangan mataku mungkin memang sempit hingga penglihatanku tak dapat menerawang  pada apa yang kamu pikirkan. Ketika berpikirpun aku seringkali sama cepatnya dengan kedipan mata, tak dapat dengan benar dan sabar dalam menyimpulkan sesuatu. Kata- kata yang terucap dari bibirku terkadang tak ubahnya aliran air yang mengalir dengan derasnya, tanpa terpikir apakah volume wadah yang kutuju dapat menampung semuanya. Aku, dengan kekuranganku, aku dengan banyaknya sifat burukku, dan aku dengan diriku yang tak kunjung membaik.

Kesenangan, Kesedihan, Kemarahan, dan  kesendirian. Betapa minim syukurku atas karuniamu, betapa pendeknya akalku dalam mengartikan kasihmu, dan betapa tak sabarnya diriku dalam menggapai cintamu. Aku sering kali menyalah artikan tangisanku, tetes air mataku sebagai tanda bahwa aku mulai memahami indahnya mencintamu, namun seni pikiranku hanya berputar putar pada hanya Aku dan banyaknya inginku, pada hanya aku dan takutku akan duniamu.

Topengku dihadapan manusia mungkin telah terpasang dengan baik dan sempurna, namun topeng yang ku kenakan dihadapanmu malah menyesakkan diriku, aku sulit bernapas, aku merasa sesak, dan aku kesendirian itu begitu nyata. Ketika aku datang padamu, aku mengadu membungkus keluh kesahku dengan banyaknya pintaku, harapan, serta doa doa dan bujuk rayu harapku akan kuasamu, namun aku lupa, lupa bagaimana cara mencintaimu terlepas dari segudang pintaku, lupa bagaimana rasa cinta  yang seharusnya dibangun dari rasa takut dan taat yang sesungguhnya dapat menentramkan jiwaku, lupa memikirkan bagaimana  seharusnya cara yang akan ku tempuh untuk mencintaimu.

Ketika gerakan kakiku dalam melangkah melambat, pundakku merosot, lelah karena beban yang kurasa berlebih, aku yang semula berjalan angkuh, membusungkan dadaku, dan menatap kedepan tanpa ragu, kemudian terkuku merasa kuyu dalam kekecewaan di suatu waktu. Aku sombong, aku menganggap aku bisa membuat jalanku sendiri dengan mencabuti belukar  penghalang dengan tanganku satu persatu.  Aku melupakan kuasamu yang bahkan dapat mengarahkan ku pada jalan yang bahkan kerikilpun tak akan menjadi penghalang. Nyatanya ingatan yang buruk bukan menjadi satu satunya alasanku, melainkan banyaknya noda hitam dihatiku yang menjadi kontrbusi terbesar dalam ketidak mampuanku untuk mencintaimu dengan sebenar benarnya cinta.

 

 

Ada kalanya..

 

 

 

Bismillahirohmanirohim…

Ada kalanya kamu merasakan kosong, sekitarmu ialah keramaian namun kamu merasa hampa  bahkan saat kamu merupakan salah satu bagian dari keramaian itu

Ada kalanya kamu kesepian, saat disampingmu, disekelilingmu mereka menemani, gelak tawa dan canda melingkupi namun entah mengapa kamu tetap merasa sendiri

Ada kalanya kamu merasa sakit, kamu mampu menjalani kehidupan normalmu, melakukan banyak hal, beraktiditas dengan normal tapi kamu tetap merasakan  rasa yang berbeda pada salah satu bagian dari dirimu

Ada kalanya kamu merasa sedih, senyum tersungging di kedua sudut bibirmu, matamu tak henti berkedut oleh dorongan kerasnya tawamu tapi hatimu malah merasakan hal yang sebaliknya

Ada kalanya kau merasa hidupmu penuh kebohongan, kamu mengiyakan statement yang mereka lontarkan, kamu membenarkan pendapat mereka dengan lisanmu namun pikiranmu terus menyangkalnya

Kamu akan menemukan salah satu dari “ ada kalanya..” di beberapa kesempatan dalam hidupmu, sesekali mungkin, atau malah berkali kali.

“ ada kalanya..”  bagiku menjelaskan satu hal yang pasti, apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya, apa yang di visualkan oleh bola matamu, di dengar oleh telingamu dan diinterpretasikan oleh otak melalui pemikiranmu terkadang belumlah dapat memberikan jawaban jelas atas banyaknya tanya yang  membuncah dalam rasa penasaranmu.

Walaupun kamu menyangkal bahwa anggapanmu bukan tuduhan  kosong  dengan menyodorkan bukti yang telah terangkai dan tersusun rapih bak penelitian yang kau lengkapi dengan rujukan pustaka yang shahih.

Kamu bisa saja benar, pikiranmu dan fakta itu bisa jadi menjelaskan yang sesungguhnya, namun kamu  sendiripun tau dengan pasti, bahwa selalu ada alasan, selalu ada sebab sebelum adanya perbuatan serta akibat.

Jika tidak setuju tak mengapa,  karena tak ada hukum yang menuntut pendapat kita harus sejalan . Jika tidak suka tak jadi masalah, karena bahkan yang paling sempurna sekalipun tetap memiliki pembencinya dan Jika tak bisa menerima pun itu pilihan.

Dari pada  terus berpikir buruk  tentang orang lain atas yang kau lihat serta fakta yang kau dapat, mengapa tidak terlebih dahulu kamu merenungkan, apa yang salah dari pikiranmu sampai kamu tidak mampu berpikir positif tentang hal tersebut?

 

Nb:  Bukan bermaksud menggurui, hanya mencoba berbagi, karena diri juga tidaklah suci perlu belajar serta masih harus introspeksi, karena belajar yang paling ampuh namun sedikit menyesakkan ialah belajar dari kesalahan sendiri. Lihat diri, pahami, nilai, renungkan, koreksi, serta perbaiki J . Salam sayang dari aku yang  belum menyelesaiakn revisi :’).

 

Bejana hati…

Mungkin belum waktu yang tepat bagiku untuk bicara mengenai cinta dan perasaan itu karena pada dasarnya untuk menyambut sebuah perasaan yang baru terlebih dahulu aku harus menyiapkan hatiku, yang mana hati laksana wadah atau bejana, sedangkan perasaan ialah isinya. Pernah aku mengisi bejana yang kotor dengan air, tapi entah kotoran yang tersisa pada bejana itu kemudian mengubah warna air yang kuisi, ataukah kotoran pada bejana yang tetap mengendap tak berpindah sehingga mengurangi volume air yang seharusnya terisi. Kedua kondisi itu terlihat berbeda, akan tetapi memiliki satu kesimpulan yang sama.

Wadah yang kotor dapat mempengaruhi zat yang kelak hendak kita isi kedalamnya. Begitu pula halnya dengan hati dan perasaan. Untuk menyambut cinta serta perasaan yang baru akan lebih baik jika kita membersihkan hati kita dari cinta serta perasaan lain yang tersisa, dan  telah mengendap. Perasaan lama yang nampak hilang dipermukaan akan tetapi sebenarnya masih tetap tersimpan ditempat yang sama, hanya saja wujudnya tersamarkan, mungkin tak tampak bila dilihat sekilas ataupun jika kau perhatikan dengan kasat matamu, namun dia tetap ada. perasaan semacam itulah yang terkadang luput dari perhatian, raga berdalih melupakan namun hati masih tetap ingin menyimpan.

Manusiawi jika kita menganggap perasaan yang tersisa sebagai memori hidup tentang indahnya berkasih, akan tetapi akan tidak adil apabila kau menyuguhkan cokelat yang telah kau bagi bagi tanpa membungkus kembali bagian yang telah kau sisakan. kau seolah berharap cokelat yang sebelumnya telah kau bagi dua akan kembali menyatu menjadi satu wujud sedangkan cokelat tersebut sudah habis tak bersisa, jadi sisa perasaanmu dan cokelatmu yang tak kunjung kau bungkus sama halnya dengan perasaan yang masih  kau sisakan serta harapan akan sisa perasaan tersebut.

Untuk memulai sesuatu, tentunya kita bukan hanya mengharapkan untuk sekedar memulai saja bukan? karena jika ada permulaan pasti akan selalu ada akhir yang diinginkan, dan tak ada manusia yang menginginkan akhir yang buruk dari permulaan yang mereka buat, begitu pula halnya ketika kita mencoba untuk jatuh cinta lagi, memberi kesempatan pada hati kita untuk merasakan perasaan yang baru .Agar apa yang nantinya kita mulai berakhir dengan baik, tentunya kita harus terlebih dahulu mempersiapkan hati dan pikiran kita, selayaknya analogi bejana yang masih meninggalkan sisa, hatimu yang masih memiliki sisa sisa perasaan akan cinta terdahulu-pun tentunya memiliki kondisi yang sama dengan bejana tersebut. Maka dari itu membersihkan hati dari sisa cinta terdahulu dapat dikatakan pilihan yang bijaksana sebelum memulai cerita cinta yang baru. Hati yang bersih akan lebih siap untuk mencintai, membuatmu lebih sepenuh hati sehingga akhir yang indahpun akan mungkin untuk diraih.

 

 

NB: Salam sayang dariku sarjana muda yang belum menyelesaikan revisi, ternyata memasuki tingga minggu menjadi pengangguran cukup menguras emosi dan pikiran, namun seklai lagi Allah pasti tahu yang terbaik, keep your spirit up 🙂