Belum dapat mencintaimu

Pandangan mataku mungkin memang sempit hingga penglihatanku tak dapat menerawang  pada apa yang kamu pikirkan. Ketika berpikirpun aku seringkali sama cepatnya dengan kedipan mata, tak dapat dengan benar dan sabar dalam menyimpulkan sesuatu. Kata- kata yang terucap dari bibirku terkadang tak ubahnya aliran air yang mengalir dengan derasnya, tanpa terpikir apakah volume wadah yang kutuju dapat menampung semuanya. Aku, dengan kekuranganku, aku dengan banyaknya sifat burukku, dan aku dengan diriku yang tak kunjung membaik.

Kesenangan, Kesedihan, Kemarahan, dan  kesendirian. Betapa minim syukurku atas karuniamu, betapa pendeknya akalku dalam mengartikan kasihmu, dan betapa tak sabarnya diriku dalam menggapai cintamu. Aku sering kali menyalah artikan tangisanku, tetes air mataku sebagai tanda bahwa aku mulai memahami indahnya mencintamu, namun seni pikiranku hanya berputar putar pada hanya Aku dan banyaknya inginku, pada hanya aku dan takutku akan duniamu.

Topengku dihadapan manusia mungkin telah terpasang dengan baik dan sempurna, namun topeng yang ku kenakan dihadapanmu malah menyesakkan diriku, aku sulit bernapas, aku merasa sesak, dan aku kesendirian itu begitu nyata. Ketika aku datang padamu, aku mengadu membungkus keluh kesahku dengan banyaknya pintaku, harapan, serta doa doa dan bujuk rayu harapku akan kuasamu, namun aku lupa, lupa bagaimana cara mencintaimu terlepas dari segudang pintaku, lupa bagaimana rasa cinta  yang seharusnya dibangun dari rasa takut dan taat yang sesungguhnya dapat menentramkan jiwaku, lupa memikirkan bagaimana  seharusnya cara yang akan ku tempuh untuk mencintaimu.

Ketika gerakan kakiku dalam melangkah melambat, pundakku merosot, lelah karena beban yang kurasa berlebih, aku yang semula berjalan angkuh, membusungkan dadaku, dan menatap kedepan tanpa ragu, kemudian terkuku merasa kuyu dalam kekecewaan di suatu waktu. Aku sombong, aku menganggap aku bisa membuat jalanku sendiri dengan mencabuti belukar  penghalang dengan tanganku satu persatu.  Aku melupakan kuasamu yang bahkan dapat mengarahkan ku pada jalan yang bahkan kerikilpun tak akan menjadi penghalang. Nyatanya ingatan yang buruk bukan menjadi satu satunya alasanku, melainkan banyaknya noda hitam dihatiku yang menjadi kontrbusi terbesar dalam ketidak mampuanku untuk mencintaimu dengan sebenar benarnya cinta.

 

 

Ada kalanya..

 

 

 

Bismillahirohmanirohim…

Ada kalanya kamu merasakan kosong, sekitarmu ialah keramaian namun kamu merasa hampa  bahkan saat kamu merupakan salah satu bagian dari keramaian itu

Ada kalanya kamu kesepian, saat disampingmu, disekelilingmu mereka menemani, gelak tawa dan canda melingkupi namun entah mengapa kamu tetap merasa sendiri

Ada kalanya kamu merasa sakit, kamu mampu menjalani kehidupan normalmu, melakukan banyak hal, beraktiditas dengan normal tapi kamu tetap merasakan  rasa yang berbeda pada salah satu bagian dari dirimu

Ada kalanya kamu merasa sedih, senyum tersungging di kedua sudut bibirmu, matamu tak henti berkedut oleh dorongan kerasnya tawamu tapi hatimu malah merasakan hal yang sebaliknya

Ada kalanya kau merasa hidupmu penuh kebohongan, kamu mengiyakan statement yang mereka lontarkan, kamu membenarkan pendapat mereka dengan lisanmu namun pikiranmu terus menyangkalnya

Kamu akan menemukan salah satu dari “ ada kalanya..” di beberapa kesempatan dalam hidupmu, sesekali mungkin, atau malah berkali kali.

“ ada kalanya..”  bagiku menjelaskan satu hal yang pasti, apa yang terlihat belum tentu yang sebenarnya, apa yang di visualkan oleh bola matamu, di dengar oleh telingamu dan diinterpretasikan oleh otak melalui pemikiranmu terkadang belumlah dapat memberikan jawaban jelas atas banyaknya tanya yang  membuncah dalam rasa penasaranmu.

Walaupun kamu menyangkal bahwa anggapanmu bukan tuduhan  kosong  dengan menyodorkan bukti yang telah terangkai dan tersusun rapih bak penelitian yang kau lengkapi dengan rujukan pustaka yang shahih.

Kamu bisa saja benar, pikiranmu dan fakta itu bisa jadi menjelaskan yang sesungguhnya, namun kamu  sendiripun tau dengan pasti, bahwa selalu ada alasan, selalu ada sebab sebelum adanya perbuatan serta akibat.

Jika tidak setuju tak mengapa,  karena tak ada hukum yang menuntut pendapat kita harus sejalan . Jika tidak suka tak jadi masalah, karena bahkan yang paling sempurna sekalipun tetap memiliki pembencinya dan Jika tak bisa menerima pun itu pilihan.

Dari pada  terus berpikir buruk  tentang orang lain atas yang kau lihat serta fakta yang kau dapat, mengapa tidak terlebih dahulu kamu merenungkan, apa yang salah dari pikiranmu sampai kamu tidak mampu berpikir positif tentang hal tersebut?

 

Nb:  Bukan bermaksud menggurui, hanya mencoba berbagi, karena diri juga tidaklah suci perlu belajar serta masih harus introspeksi, karena belajar yang paling ampuh namun sedikit menyesakkan ialah belajar dari kesalahan sendiri. Lihat diri, pahami, nilai, renungkan, koreksi, serta perbaiki J . Salam sayang dari aku yang  belum menyelesaiakn revisi :’).