Pengakuan dan penyesalanku

Demi dirimu yang menyertaiku, maaf mungkin tak cukup untuk menggambarkan seberapa besar penyesalanku.. Untukmu yang senantiasa menemaniku, tak lelah, tak  jemu tak pernah terlewat sedetikpun pandangmu dalam keseharianku…

Dikala pandangan  mataku menggelap, sinarmu tertutup awan kelabu, hingga bahkan hatiku tak menemukan setitikpun  cahaya menujumu…namun kau tetap disana, menatapku, menungguku, tak jemu menyayangiku

Sungguh bukan engkau, sungguh bukan dia yang selalu menyesatkanku, tapi aku yang tak berhenti menyakiti diriku..apa yang kugapai dengan tanganku dulu, kubangga dengan segenap ego dan harga diriku, tak ubahnya sekedar pencapaian semu..

Kau tak jenuh datang meski sapaanmu kubalas dengan keluh , kau tak jemu  memanggil meski suaramu tak jua ku renung dalam kalbuku…

Dulu aku tak sepenuhnya setuju, namun kini aku terhempas dan terjatuh dalam asaku, bahwa aku tanpamu bagaikan semesta dengan sebutir pasir, sel bahkan atom yang tak terlihat

Aku tanpamu,  tak ada

Jalanku tanpamu , tersesat

Langkahku tanpamu, tertatih

Harapku tanpamu, kepalsuan

Senangku tanpamu, semu

Sedihku tanpamu, kehancuran.

Pengakuan dan penyesalanku, serta ucap terimakasihku atas indahnya kesempatan kedua, ketiga, keempat bahkan kelima yang sellau kau tawarkan, seperti oase ditengah teriknya matahari di padang pasir.

Aku Yang Belum Mengenal Diriku (2)

Banyak sudut pandang yang digunakan orang-orang dalam usahanya untuk menggambarkan siapa dirinya, bagaimana ia serta apa yang dia inginkan kedepan. Salah satu usahanya yakni dengan mendengarkan pendapat, pernyataan, serta anggapan orang lain, hal tersebut tentu tak bisa kita salahkan, karena kelebihan dan kekurangan kita kadang lebih jelas tergambar dari sudut pandang serta kacamata orang lain dibandingkan dengan penggambaran dari sudut pandang kita sendiri. Tapi apakah semua pernyataan serta penggambaran yang orang lain berikan itu dapat benar-benar dijadikan patokan dalam menggambarkan diri kita? menurutku tidak.

Orang lain memiliki sudut pandang yang berbeda dalam melihat suatu fenomena, ada seseorang yang lebih fokus melihat kekurang, sedikit mengabaikan kelebihan ada pula yang sebaliknya, ada yang lebih jeli dalam menganalisa serta tak luput dari matanya hal-hal kecil yang sejatinya dapat digunakan sebagai bahan penilaian, ada juga yang menilai hanya garis besarnya saja. Banyak faktor yang berpengaruh tentu saja. Dengan sudut pandang  dan faktor yang beragam itulah kita tidak seharusnya menjadikan pendapat orang lain sebagai patokan utama dalam mencoba mencari tau  dan menilai siapa diri kita.

Terkadang kita sering menemukan suatu keadaan dimana kita diminta untuk mendeskripsikan diri kita, bagaimana sifat, kekurangan serta kelebihan yang kita miliki. Beberapa orang mampu untuk menjelaskan siapa dirinya, bagaimana ia, apa kekurangan serta kelebihan yang ia miliki, namun beberapa diantaranya juga memiliki kesulitan tersendiri untuk melakukan hal tersebut. Jika ditanya mengapa mereka tidak bisa menggambarkan diri mereka dengan baik, sebagian menjawab bahwa yang lebih tau dan bisa menilai yakni orang disekitar mereka, orang yang berinteraksi dengan mereka, karena pendapat pribadi terkadang tidak terlalu objektif untu menggambarkannya.

Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak bisa dibenarkan seuutuhnya, memang dikeseharian orang terdekat yang banyak berinteraksi dengan kitalah yang menjadi saksi atas kegiatan, sikap, perilaku, tindakan yang kita lakukan, akan tetapi seperti sebelumnya, banyak faktor yang dapat menjadi sumber bias sehingga dapat mempengaruhi penilaian itu sendiri, karena pada dasarnya kebanyakan orang-orang  seringkali mengutamakan prasangkanya, menilai hanya dari satu sisi. Tidak mengeherankan jika penilaian yang didapat pun tidak benar-benar dapat menginterpretasikan  apa yang dinilai, karena orang yang memberikan penilaian terkadang hanya menilai apa yang kita tampilkan saja.

Aku sering mendengar banyak pendapat orang lain mengenai diriku sendiri,beragam komentar serta penilaian yang aku terima, terkadang ada kalanya aku merasa setuju dengan apa yang mereka katakan, akan tetapi tidak jarang juga aku merasa itu tidaklah sesuai dengan diriku ” They actually dont know about me“, ya namanya juga manusia , terkadang lebih cenderung suka dengan pujian atau lebih cenderung pada hal yang baik, sementara terkadang pendapat yang  menyatakan suatu hal yang kurang baik  atau tidak begitu kita sukailah  merupakan hal yang lebih sering tidak bisa diterima dengan baik.

Terlepas dari menilai diri sendiri dari sudut pandang orang lain, aku sadar bahwa yang paling mengenal diri kita, siapa kita, bagaimana kita itu ialah diri kita sendiri, karena kita yang menjalani, melaksanakan, memikirkan bahkan merasakan berbagai aspek terkait pribadi kita sendiri. Namun kadang-kadang ada beberapa hal, ada beberapa kondisi yang membuat penilaian dari sudut pandang orang lain sangatlah kita butuhkan, pendapat orang lain dapat dijadikan sebagai penguat maupun bahan introspeksi diri, ketika kita sudah tau tentang diri kita dari sudut pandang kita sendiri, lalu pastikan lagi kebenarannya dengan melihatnya dari sudut pandang orang lain, pasti ada saja hal yang bisa kita koreksi sebagai bahan untuk memperbaiki diri.

finally, aku yang belum mengenal diriku ini masih terus mengkaji masih terus  menggali dan berbenah serta mengintrospeksi diri, karena tidak mudah untuk mampu mengenali diri sendiri, akan tetapi hal tersebut harus benar-benar dipahami, karena ketika kita mengerti akan diri sendiri maka tak sukar untuk menentukan apa yang ingin dicari dikemudian hari.

maapkeun banyak typo :’) 

 

Aku yang belum mengenal diriku (1)

Aku baru tau, kalau terkadang mencintai diri sendiri itu lebih sulit daripada mencoba menerima orang lain yang kita ga suka untuk masuk ke hidup kita. Menghargai diri sendiri itu lebih sulit dibanding mencoba menerima argumen orang lain ketika beda pendapat dalam suatu perdebatan. Begitu sulitnya memahami diri kita sendiri bahkan terasa lebih sulit bila dibandingakan dengan mencoba memahami perasaan orang lain.

Terkadang dalam kehidupan, sehari-harinya kesulitan yang tampak lebih banyak kita hadapi ialah kesulitan yang berkaitan dengan orang lain, orang disekitar kita, lebih kepada interpersonal, antar individu, ya kalian pasti pernah ngalamin gimana susahnya buat nerima pendapat seseorang yang jelas-jelas beda kepala sama kita, beda pemikiran dan beda cara pandangnya, sangat sulit, tapi, kita bisa langsung sadar dan paham kalau sejatinya pemikiran serta cara pandang kita jelas berbeda dengan orang tersebut. Sama halnya ketika kita mencoba untuk menerima seseorang yang kita tidak begitu suka untuk masuk kedalam lingkaran kita, sejatinya kita sudah paham dari awal kalau ada beberapa hal yang kita tidak suka dari orang tersebut, sehingga ketika kita sudah memutuskan untuk menerima orang itu, otomatis kita mencoba memahami dan mencoba menerima. Seolah apa yang harus kita lakukan itu tergambar nyata dan tidaklah abstrak ya hasilnya bisa kita lihat langsung , bisa dari reaksi orang yang bersangkutan, maupun kondisi yang kita rasakan.

Jika itu berkaitan dengan orang lain, kita selalu memposisikan diri kita untuk bisa paham, mengerti, dan menerima, tapi mengapa begitu sulit jika posisi itu kita balikkan untuk diri kita sendiri. Ya aku ga tau apa cuma aku yang merasa bahwa aku belum benar-benar paham dengan diri ku sendiri.

Memahami diri sendiri bagiku tidak lah mudah,  itu cukup sulit, bahkan terkadang aku tidak begitu paham dan mengerti apa yang aku inginkan, apa yang sebenarnya aku mau, dan hal apa yang bisa membuat aku bahagia. Terlalu banyaknya pendapat orang yang menghiasi kehidupanku juga kayaknya punya andil yang lumayan besar, dan yang aku sadari selama ini aku berkaca dari pendapat-pendapat tersebut untuk membentuk sebuah statement bahwa aku, diriku itu benar seperti yang mereka katakan, aku diriku, itu persis seperti apa yang mereka gambarkan.

Berkaca dari pendapat orang lain membuat aku melupakan hal yang benar-benar penting, aku lupa bagaimana aku dari sudut pandangku sendiri, aku tidak memahami hal apa yang benar-benar aku inginkan, dan terkadang aku lupa bagaimnaa cara membuat diriku sendiri bahagia.